fpsi.umsida.ac.id — Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Pendidikan dan Studi Islam (FPSI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) turut ambil bagian secara aktif dalam merumuskan arah pengembangan kurikulum nasional melalui Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Perkumpulan Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PPPBA) Indonesia Tahun 2026 yang berlangsung di Yogyakarta.
Kegiatan berskala nasional ini diselenggarakan sebagai wadah strategis untuk memperkuat jejaring antarprogram studi sekaligus memetakan standar kompetensi lulusan Pendidikan Bahasa Arab di seluruh Indonesia.
Dalam salah satu sesi kelompok kerja, para pengelola prodi dan akademisi PBA dari berbagai perguruan tinggi melakukan musyawarah intensif guna menyusun pemetaan bahan kajian serta proporsi Satuan Kredit Semester (SKS).
Partisipasi prodi PBA Umsida dalam forum tersebut menjadi wujud komitmen nyata institusi dalam menghadirkan kurikulum yang adaptif, relevan, serta menjawab tantangan zaman.
Diskusi kelompok tersebut difokuskan pada penyelarasan profil lulusan dengan kebutuhan lapangan kerja di era digital yang sangat dinamis.
Melalui musyawarah tersebut, para peserta berhasil merumuskan rekomendasi pemetaan kurikulum yang visioner serta terukur secara akademis.
Rekomendasi Pemetaan 144 SKS dan Proporsi Bahan Kajian Kurikulum Nasional
Musyawarah kelompok kerja PPPBA 2026 secara resmi menghasilkan rekomendasi struktur kurikulum berbobot total 144 SKS yang terbagi ke dalam lima kelompok bahan kajian utama.
Kelompok bahan kajian pertama meliputi Ilmu Bahasa Arab Mikro, Makro, dan Terapan yang dialokasikan sebanyak 24 SKS atau setara dengan 16,7 persen dari total keseluruhan kurikulum.
Kelompok kedua adalah Keterampilan Berbahasa Arab yang memperoleh porsi sebanyak 30 SKS atau sebesar 20,8 persen.
Kelompok ketiga yang menjadi pilar inti adalah Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Arab dengan porsi terbesar, yaitu sebanyak 46 SKS atau mencapai 31,9 persen.
Kelompok keempat mencakup bidang Penelitian, Sastra, Budaya Arab, dan Penerjemahan yang ditetapkan sebanyak 28 SKS atau setara dengan 19,4 persen.
Sementara itu, kelompok kelima terdiri dari Kajian Umum, Keislaman, Kebangsaan, dan Penciri Institusi yang dialokasikan sebanyak 16 SKS atau sebesar 11,1 persen.
Penetapan proporsi ini dirancang secara sistematis untuk memastikan keseimbangan antara teori, keterampilan praktis, dan nilai-nilai pembentukan karakter.
Struktur kurikulum nasional ini diharapkan menjadi acuan standar baku bagi seluruh pengelola program studi PBA di Indonesia.
Penguatan Aspek Pedagogis dan Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Teknologi
Penempatan kelompok Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Arab sebagai porsi terbesar sebesar 46 SKS didasarkan pada karakter utama program studi yang bertugas mencetak pendidik profesional.
Melalui porsi terbesar ini, mahasiswa disiapkan agar tidak hanya menguasai materi keilmuan, tetapi juga ahli dalam pengembangan metode, bahan ajar, serta evaluasi pembelajaran.
Kelompok bahan kajian pedagogis ini mencakup bidang landasan pendidikan, psikologi perkembangan, serta teori pemerolehan bahasa anak.
Selain itu, mahasiswa juga dibekali keahlian dalam penyusunan kurikulum, metodologi pembelajaran interaktif, asesmen capaian belajar, serta pengembangan media berbasis teknologi digital.
Kompetensi praktis mahasiswa diperkuat melalui program microteaching, praktik pembelajaran autentik di sekolah, hingga strategi pembelajaran inklusif dan diferensiatif.
“Porsi terbesar pada aspek pedagogis ini sangat penting untuk memastikan lulusan siap menjadi pendidik yang inovatif di era digital,” ujar salah satu perwakilan forum diskusi.
Penguasaan teknologi edukasi modern menjadi kunci utama agar pembelajaran bahasa Arab dapat disajikan secara menarik serta adaptif bagi generasi muda.
Pengembangan Kompetensi Kebahasaan dan Kemampuan Performatif Mahasiswa PBA
Di samping aspek pedagogis, forum nasional PPPBA 2026 memberikan perhatian yang sangat besar terhadap penguatan kompetensi kebahasaan mahasiswa.
Kelompok Ilmu Bahasa Arab dirancang sebesar 24 SKS yang mencakup disiplin Nahwu, Sharaf, Fonetik-Fonologi Arab, serta Balaghah atau Uslub.
Bidang keilmuan kebahasaan tersebut juga diperluas dengan materi linguistik umum, teori bahasa, semantik, pragmatik Arab, sosiolinguistik, psikolinguistik, hingga analisis korpus terapan.
Sementara itu, penguatan Keterampilan Berbahasa Arab dialokasikan sebesar 30 SKS yang mencakup Maharah al-Istima’, Kalam, Qira’ah, dan Kitabah.
Kelompok keterampilan ini juga mencakup pembelajaran Bahasa Arab Akademik dan Profesional, kemahiran terpadu, serta persiapan uji profisiensi bahasa.
Dalam forum musyawarah ditegaskan bahwa pembelajaran kemahiran bahasa harus digeser dari sekadar penguasaan teori menuju kemampuan performatif yang nyata.
Sistem asesmen kebahasaan dirancang mencakup kemampuan berbicara, presentasi akademik, debat, menyimak autentik, membaca kritis, penulisan karya ilmiah, hingga uji kemahiran bahasa Arab.
“Asesmen kemahiran bahasa harus mengukur kemampuan performatif mahasiswa secara riil di lapangan,” tegas perwakilan akademisi PBA.
Melalui kesepakatan nasional ini, Prodi PBA Umsida optimistis melahirkan lulusan unggul yang berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun internasional.
Editor: Finnaja


















