fpsi.umsida.ac.id — Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) berhasil meraih pendanaan melalui Program Riset Kerja Sama Internasional (RKI) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Islam (Diktisaintek). Salah satu penerima program tersebut adalah Dr. Anita Puji Astutik, S.Ag., M.Pd.I., Wakil Dekan II Fakultas Pendidikan dan Studi Islam (FPSI) Umsida, melalui penelitian berjudul “Pengembangan Model Pembelajaran SIFLE (Smart Islamic Finance Learning Ecosystem) untuk Menumbuhkan Literasi Keuangan Syariah pada Pendidikan Vokasi dalam Kemitraan Indonesia-Malaysia.”
Penelitian ini menjadi langkah strategis dalam mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis teknologi digital, Artificial Intelligence (AI), dan literasi keuangan syariah dengan melibatkan mitra internasional, yaitu Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia.
Dr. Anita menjelaskan bahwa keikutsertaannya dalam Program RKI berawal dari keinginan untuk memperluas dampak penelitian yang telah ditekuni selama ini. “Awalnya saya melihat Program Riset Kerja Sama Internasional sebagai kesempatan untuk mengembangkan hasil riset yang selama ini saya tekuni agar memiliki dampak yang lebih luas dan perspektif internasional,” ungkapnya.
Ia kemudian memetakan rekam jejak penelitian dengan kebutuhan program, khususnya pada bidang pengembangan model pembelajaran digital, teknologi pendidikan, pendidikan Islam, serta integrasi Artificial Intelligence. Dari proses tersebut, muncul gagasan pengembangan SIFLE yang dinilai memiliki kesinambungan dengan fokus risetnya.
Keberhasilan tersebut semakin diperkuat dengan adanya hubungan kerja sama akademik antara Umsida dan UniSZA, termasuk pengalaman dalam joint research dan publikasi bersama. “Alhamdulillah, setelah melalui proses seleksi, proposal ini dinyatakan lolos dan didanai oleh Diktisaintek. Bagi saya, keberhasilan ini bukan hanya keberhasilan pribadi, tetapi juga merupakan kepercayaan terhadap UMSIDA untuk terus mengembangkan riset yang memiliki nilai inovasi dan jejaring internasional,” jelasnya.
Mengembangkan Ekosistem Pembelajaran Keuangan Syariah Berbasis Digital
Pengembangan SIFLE dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan antara perkembangan industri keuangan syariah dengan kemampuan literasi keuangan syariah generasi muda, khususnya mahasiswa pendidikan vokasi.
Menurut Dr. Anita, perkembangan teknologi digital, fintech, Artificial Intelligence, serta learning analytics berkembang sangat cepat. Namun, pembelajaran keuangan syariah masih banyak dilakukan secara terpisah antara materi, media digital, dan pengalaman belajar.
“SIFLE bukan sekadar membuat sebuah aplikasi, tetapi mengembangkan model pembelajaran yang membentuk sebuah ekosistem belajar,” ujarnya.
Model tersebut mengintegrasikan literasi keuangan syariah, pedagogi vokasi, teknologi digital, AI, learning analytics, simulasi keuangan syariah, serta aktivitas pembelajaran berbasis masalah. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan konsep keuangan syariah dalam kehidupan nyata maupun dunia kerja.
Tujuan utama penelitian ini adalah menghasilkan purwarupa Model Pembelajaran SIFLE yang dapat digunakan untuk meningkatkan literasi keuangan syariah mahasiswa pendidikan tinggi vokasi. Model tersebut dikembangkan melalui pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning), pembelajaran kolaboratif, simulasi kasus, serta pemanfaatan teknologi digital.
“Permasalahan yang ingin kami jawab bukan hanya apakah mahasiswa mengetahui konsep keuangan syariah, tetapi juga bagaimana mereka dapat memahami, menerapkan, dan mengambil keputusan yang berkaitan dengan keuangan syariah dalam konteks kehidupan dan dunia kerja,” tutur Dr. Anita.
Melalui penelitian ini, tim menargetkan menghasilkan purwarupa yang tervalidasi hingga Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) 6, dilengkapi modul pembelajaran, hasil uji coba, Feasibility Study, serta pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Kolaborasi Indonesia-Malaysia untuk Inovasi Pendidikan
Dalam pelaksanaan penelitian, Umsida dan UniSZA menerapkan konsep equal partnership, yaitu kerja sama yang mengedepankan kontribusi berdasarkan kepakaran masing-masing institusi.
Umsida berperan dalam analisis kebutuhan, pengembangan purwarupa, penyusunan modul dan website pembelajaran, implementasi terbatas di Indonesia, pengumpulan serta analisis data, hingga penyusunan studi kelayakan dan pengajuan HKI.
Sementara itu, UniSZA berkontribusi dalam penguatan substansi Islamic Finance dan Fiqh al-Muamalat, co-design model pembelajaran, validasi pakar, interpretasi hasil penelitian, serta publikasi bersama.
Dr. Anita menyampaikan bahwa tantangan utama dalam penelitian kolaboratif internasional adalah menggabungkan perspektif keilmuan dan konteks pendidikan yang berbeda. Namun, hal tersebut menjadi peluang untuk menghasilkan inovasi yang lebih kuat.
“Tantangan yang paling utama adalah bagaimana mengintegrasikan dua perspektif keilmuan dan konteks pendidikan yang berbeda menjadi sebuah model yang tetap relevan untuk pendidikan vokasi di Indonesia, tetapi memiliki perspektif internasional,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi tersebut dilakukan melalui komunikasi berkala, diskusi ilmiah, validasi bersama, dan pertukaran pengetahuan antarpeneliti. “Ketika dua kepakaran yang berbeda dapat dipertemukan, di situlah muncul ruang untuk menghasilkan inovasi yang lebih kuat,” pungkasnya.
Melalui Program RKI ini, Umsida terus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan riset inovatif berbasis kolaborasi internasional, khususnya dalam menghadirkan solusi pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.
Penulis: Nabila Wulyandini















