fpsi.umsida.ac.id—Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Pendidkan dan Studi Islam (FPSI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo menggelar workshop edukasi lingkungan Climate Fresk untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai krisis iklim global.
Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk komitmen kampus dalam mengintegrasikan isu-isu keberlanjutan lingkungan hidup ke dalam ranah pendidikan dasar sejak dini.
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo memandang bahwa penguasaan materi perubahan iklim merupakan fondasi mendasar yang wajib dimiliki oleh setiap calon pendidik masa depan.
Seorang guru sekolah dasar tidak hanya mengemban kewajiban akademis untuk mentransfer ilmu pengetahuan di dalam kelas, melainkan juga memegang peranan kunci dalam membentuk karakter serta kepedulian sosial peserta didik.
Melalui kemitraan strategis dengan Inovasi Australia, agenda workshop ini dirancang khusus agar para mahasiswa mampu membedah kompleksitas krisis iklim secara komprehensif sekaligus membangun kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian bumi.
Kegiatan yang berlangsung secara intensif ini menghadirkan suasana belajar yang interaktif sehingga para peserta dapat menyerap materi dengan lebih mudah dan menyenangkan.
Keterlibatan aktif para calon pendidik dalam forum ini diharapkan mampu melahirkan inovasi-inovasi baru dalam merancang metode pengajaran isu lingkungan yang aplikatif bagi anak usia sekolah dasar.
Kesadaran ekologis yang ditanamkan sejak bangku kuliah ini diproyeksikan dapat membentuk pola pikir mahasiswa agar lebih peka terhadap berbagai masalah pencemaran dan kerusakan alam di sekitar mereka.
Metode Interaktif Climate Fresk UMSIDA dan Pembelajaran Inovatif

Pendekatan edukatif yang diterapkan dalam workshop ini mengusung metode permainan kartu kolaboratif yang sangat sejalan dengan prinsip-prinsip pembelajaran aktif era modern.
Selama proses kegiatan berlangsung, mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk merangkai kartu fakta ilmiah, memetakan hubungan sebab-akibat dari krisis lingkungan, serta mendiskusikan solusi nyata secara bersama-sama.
Model pengajaran ini sejalan dengan visi pengembangan pembelajaran inovatif di lingkungan kampus yang senantiasa mendorong para mahasiswa untuk berpikir kritis, analitis, dan responsif terhadap dinamika persoalan dunia nyata.
Melalui pengalaman belajar yang bermakna ini, para calon guru diajak memahami bahwa fenomena perubahan iklim bukanlah isu tunggal yang berdiri sendiri, melainkan sebuah rantai masalah yang terikat erat dengan aktivitas manusia harian.
Krisis ekologis yang terjadi saat ini memiliki dampak domino yang langsung mempengaruhi stabilitas kondisi lingkungan, ketahanan pangan, hingga kualitas kesejahteraan hidup masyarakat secara keseluruhan.
Oleh sebab itu, langkah penanggulangan dampak krisis lingkungan memerlukan fondasi pengetahuan yang tepat serta partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali.
Bagi sivitas akademika perguruan tinggi, momentum ini mempertegas komitmen moral bahwa edukasi lingkungan tidak boleh berhenti pada wacana teoritis di dalam ruang kuliah semata.
Pendidikan lingkungan hidup harus mampu ditransformasikan menjadi aksi nyata yang berdampak langsung dalam kehidupan sehari-hari demi menjaga keberlanjutan ekosistem bumi.
Kesadaran Ekologis Lewat Climate Fresk UMSIDA

Sebagai calon pendidik yang akan berhadapan langsung dengan generasi penerus, mahasiswa PGSD memegang posisi yang sangat menentukan dalam menanamkan nilai-nilai kepedulian lingkungan sejak dini.
Seluruh wawasan dan pemahaman mendalam yang diperoleh dari pelatihan ini dapat diolah kembali menjadi materi ajar kontekstual yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis anak sekolah dasar.
Implementasi edukasi lingkungan di tingkat sekolah dasar dapat diwujudkan melalui pembiasaan tindakan-tindakan kecil namun konsisten, seperti memilah sampah organik dan anorganik secara benar.
Selain itu, para calon guru juga dapat mengajak para siswa untuk membiasakan perilaku hemat air dan energi, merawat tanaman di lingkungan sekolah, serta mengamati perubahan kondisi alam di sekeliling tempat tinggal mereka.
Melalui keteladanan dan habituasi positif dari seorang guru, proses pembelajaran tidak hanya sebatas transfer teori ekologi, tetapi juga membangun gaya hidup yang bertanggung jawab terhadap alam.
Harapan besar disematkan pada keberlanjutan program edukasi lingkungan ini agar dapat terus dilaksanakan secara berkala dan menjangkau seluruh lapisan mahasiswa di lingkungan kampus.
Untuk jangka panjang, materi perubahan iklim ini ditargetkan dapat terintegrasi secara sistematis ke dalam struktur kurikulum perkuliahan, pembuatan media pembelajaran berbasis digital, hingga proyek pengabdian masyarakat di sekolah-sekolah mitra.
Sinergi berkelanjutan bersama Climate Fresk serta Inovasi Australia diharapkan terus terjalin kuat guna mencetak calon pendidik yang unggul, berwawasan ekologis, dan mampu menginspirasi generasi muda demi masa depan bumi yang lebih baik.(Finnaja)


















