fpsi.umsida.ac.id — Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Pendidikan dan Studi Islam (FPSI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar Pelatihan Baca Tulis Huruf Braille bagi Calon Guru Sekolah Dasar, Rabu (17/6/2026).
Kegiatan ini dilaksanakan di Mini Aula Lantai 6 Gedung Kuliah Bersama (GKB) 7 Kampus 3 Umsida, mulai pukul 08.00 hingga 10.00 WIB.
Pelatihan tersebut diikuti oleh mahasiswa PGSD yang sedang menempuh mata kuliah Anak Berkebutuhan Khusus.
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya PGSD Umsida dalam menyiapkan calon guru sekolah dasar yang memiliki pemahaman terhadap pendidikan inklusif.
Mahasiswa tidak hanya dibekali teori mengenai anak berkebutuhan khusus, tetapi juga diberi pengalaman praktik langsung dalam membaca dan menulis huruf Braille.
Narasumber pelatihan, Widiya, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memberikan bekal dasar kepada mahasiswa agar lebih siap ketika menghadapi peserta didik dengan hambatan penglihatan.
“Tujuan utama pelatihan ini adalah membekali calon guru sekolah dasar dengan pengetahuan dan keterampilan dasar membaca serta menulis huruf Braille. Hal ini penting agar mereka siap memberikan layanan pendidikan yang inklusif kepada peserta didik, termasuk siswa tunanetra,” ujarnya.
Menurutnya, kemampuan memahami huruf Braille menjadi salah satu kompetensi penting bagi calon guru SD.
Sebab, guru sekolah dasar berada pada posisi strategis dalam mendampingi proses belajar anak sejak awal.
Belajar Teori dan Praktik Braille
Dalam pelatihan ini, peserta mendapatkan materi pengantar mengenai huruf Braille, fungsi alat tulis Braille, serta cara membaca dan menulis huruf Braille secara dasar.
Setelah penyampaian materi, peserta diajak mencoba langsung penggunaan alat penulis Braille.
Metode pelatihan yang digunakan tidak hanya berupa ceramah, tetapi juga demonstrasi dan praktik.
Peserta diberi kesempatan untuk mengenal bentuk huruf, memahami pola titik Braille, serta mencoba menulis menggunakan alat yang telah disediakan.
“Metode yang digunakan meliputi penyampaian materi secara teoritis, demonstrasi penggunaan alat tulis Braille, praktik langsung membaca dan menulis huruf Braille, serta pendampingan selama proses latihan. Dengan metode ini, peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung,” jelas Widiya.
Ia menambahkan, calon guru perlu memahami bahwa pendidikan inklusif bukan hanya tentang menerima peserta didik berkebutuhan khusus di ruang kelas.
Lebih dari itu, guru harus mampu menyediakan layanan belajar yang adil, ramah, dan sesuai kebutuhan peserta didik.
“Karena guru merupakan garda terdepan dalam proses pembelajaran. Dengan memahami huruf Braille, calon guru dapat membantu siswa tunanetra memperoleh akses belajar yang setara, menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, dan mengurangi hambatan dalam proses pendidikan,” ungkapnya.
Sasaran utama kegiatan ini adalah mahasiswa PGSD yang dipersiapkan menjadi guru di sekolah dasar, baik sekolah reguler maupun sekolah inklusif.
Melalui pelatihan ini, mahasiswa diharapkan memiliki kepekaan terhadap keberagaman kondisi peserta didik di kelas.
Peserta Antusias Ikuti Pelatihan

Selama kegiatan berlangsung, peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi.
Mereka aktif bertanya, memperhatikan demonstrasi, serta mencoba secara langsung alat tulis Braille.
Suasana pelatihan berjalan interaktif karena peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga mengalami sendiri proses membaca dan menulis huruf Braille.
Widiya menyampaikan bahwa respons peserta menunjukkan adanya ketertarikan besar terhadap pembelajaran inklusif.
Banyak mahasiswa yang baru pertama kali mencoba menulis huruf Braille, sehingga kegiatan ini menjadi pengalaman baru yang berkesan.
“Peserta menunjukkan respons yang sangat positif dan antusias. Hal ini terlihat dari keaktifan mereka dalam bertanya, mencoba alat Braille, serta mengikuti setiap sesi praktik dengan penuh semangat. Banyak peserta yang mengaku mendapatkan pengalaman baru dan merasa lebih siap menghadapi pembelajaran di lingkungan sekolah inklusif,” tuturnya.
Pemilihan Mini Aula Lantai 6 GKB 7 Kampus 3 Umsida juga dinilai mendukung jalannya kegiatan.
Ruang tersebut memiliki fasilitas yang memadai, suasana kondusif, serta mampu menampung peserta dengan nyaman selama proses pelatihan berlangsung.
Melalui kegiatan ini, PGSD FPSI Umsida menegaskan komitmennya dalam menyiapkan calon guru sekolah dasar yang adaptif, humanis, dan peduli terhadap pendidikan inklusif.
Calon guru tidak cukup hanya menguasai materi pembelajaran umum, tetapi juga perlu memiliki keterampilan mendampingi peserta didik dengan kebutuhan khusus.
Pelatihan baca tulis huruf Braille ini diharapkan menjadi bekal awal bagi mahasiswa PGSD untuk lebih siap terjun ke dunia pendidikan.
Dengan pemahaman tersebut, calon guru sekolah dasar dapat berkontribusi dalam menciptakan ruang belajar yang setara, ramah, dan berpihak pada semua peserta didik.
Penulis: Nabila Wulyandini


















