Grooming

Pencegahan dan Dampak Child Grooming dalam Kehidupan Sosial

fpip.umsida.ac.id — Kehadiran buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans telah membuka diskusi yang luas mengenai child grooming, yang ternyata tidak hanya dialami oleh anak-anak, tetapi juga bisa terjadi pada remaja dan orang dewasa.

Buku ini menarik perhatian publik, karena banyak pembaca yang baru menyadari bahwa pengalaman yang mereka alami selama ini ternyata termasuk dalam pola grooming.

Pakar psikologi keluarga, Zaki Nur Fahmawati, MPsi Psikolog, menganggap hal ini sebagai sinyal positif.

Menurutnya, semakin banyak orang yang membicarakan masalah grooming, semakin besar pula kesadaran masyarakat terhadap bahayanya.

Zaki melihat bahwa respons pembaca terhadap cerita dalam Broken Strings sangat kuat, mulai dari “oh, aku pernah berada di situasi begini” hingga “oh, ini ternyata grooming.”

Sebagai manipulasi psikologis, grooming seringkali tidak disadari sejak awal. Pelaku grooming biasanya mendekati korban dengan cara yang terlihat baik dan meyakinkan.

Mereka memberi hadiah, memposisikan diri mereka sebagai sosok bijak dan penyelamat, yang akhirnya berujung pada kontrol dan manipulasi.

Pola ini tidak hanya terjadi pada anak-anak, namun juga bisa terjadi pada remaja dan orang dewasa, terutama mereka yang memiliki harga diri rendah dan mudah dipengaruhi.

Dampak yang Ditimbulkan oleh Child Grooming

Grooming

Ilustrasi: Pexels

Zaki menjelaskan bahwa grooming bisa meninggalkan dampak psikologis yang mendalam bagi korban.

Tanpa penanganan yang tepat, korban grooming akan kesulitan mengembangkan harga diri yang sehat dan bisa merasakan dampak negatif seperti perasaan tidak berdaya, rasa bersalah yang mendalam, serta kesulitan mempercayai orang lain.

Dampak ini bisa berlangsung lama, bahkan hingga korban dewasa. Dalam banyak kasus, pengalaman buruk ini membuat korban melihat dunia sebagai tempat yang penuh dengan ketidakadilan.

Mereka bisa merasa cemas, murung, dan kesulitan berinteraksi dengan orang lain karena merasa dihianati dan tidak dihargai.

Zaki juga menekankan bahwa faktor keluarga berperan besar dalam meminimalisir risiko grooming. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang tidak hangat, minim perhatian, atau bahkan dalam keluarga yang mengedepankan pola pengasuhan otoriter, lebih mudah merasa tidak dicintai.

Perasaan ini membuat mereka lebih rentan terhadap perhatian dari pihak luar yang mungkin dimanfaatkan oleh pelaku grooming.

Perubahan perilaku seperti menarik diri, cemas, dan menyimpan rahasia bisa menjadi tanda-tanda seorang anak menjadi korban grooming.

Oleh karena itu, orang tua harus lebih peka terhadap perubahan perilaku anak dan segera mencari bantuan jika ada tanda-tanda seperti ini.

Langkah Pencegahan dan Peran Keluarga dalam Menghindari Grooming

Grooming

Ilustrasi: Pexels

Pencegahan grooming seharusnya dimulai dari lingkungan keluarga yang sehat, dengan komunikasi yang terbuka dan hubungan yang hangat.

Zaki menyarankan agar orang tua mengurangi pola pengasuhan yang terlalu otoriter dan memberikan ruang bagi anak untuk berbicara tanpa takut dihakimi.

Salah satu hal yang penting untuk diajarkan adalah batasan diri (boundaries). Anak-anak perlu diberi pemahaman bahwa mereka berhak menolak tindakan yang tidak nyaman atau yang melanggar privasi mereka, termasuk sentuhan yang tidak diinginkan.

Zaki juga mengingatkan pentingnya menumbuhkan harga diri yang positif pada anak. Anak yang merasa dicintai, dihargai, dan dipahami di rumah akan lebih siap untuk mengenali ancaman dan hal-hal yang mengganggu keselamatan mereka.

Anak-anak juga perlu diajarkan untuk mencintai diri mereka sendiri (self-love). Zaki menegaskan bahwa self-love membuat seseorang lebih peka terhadap hal-hal yang mengancam keamanan dan kenyamanannya.

Selain itu, Zaki menyarankan agar keluarga tidak menjadi satu-satunya tempat yang diandalkan dalam proses penyembuhan, karena jika keluarga tidak bisa menjadi tempat yang aman, penting bagi korban untuk mencari dukungan dari lingkungan yang sehat, seperti teman atau kelompok yang memberikan rasa aman dan saling mendukung.

Korban grooming harus diberi dukungan agar mereka merasa diberdayakan dan memiliki kontrol atas diri mereka.

Zaki juga menyoroti pentingnya mengenali tanda-tanda perilaku yang mendominasi dalam hubungan, terutama bagi remaja dan dewasa yang mulai membangun relasi lebih serius.

Mengenali karakter pasangan dan pola perilaku dalam menghadapi masalah sangat penting agar hubungan tidak jatuh pada dinamika dominasi dan kontrol yang berbahaya.

Penulis: Romadhona S.

Editor: Nabila Wulyandini

Bertita Terkini

Menuju Kazakhstan, Dua Mahasiswa UMSIDA Bawa Semangat Go Global
September 3, 2026By
Asistensi Mengajar, Langkah Mahasiswa PGSD Umsida Menjadi Guru
September 2, 2026By
PLP Kelompok 69 Umsida Kolaborasi Kimia Farma Dorong Kesadaran Hidup Sehat
September 1, 2026By
PLP Kelompok 69 Hadirkan Bank Sampah di Pantai Pengkolan
August 31, 2026By
Silam.ID Umsida Hadirkan Disability Festival untuk Ruang Ekspresi Inklusif
August 28, 2026By
Dr Ida Rindaningsih Bergabung dalam Tim Ad Hoc Standar Pengasuh Anak
August 27, 2026By
Umsida Dukung Sosialisasi WIJABA Environmental Education Program
August 26, 2026By
Outstanding Achievement, Kayla Fadhila Juara 1 Public Speaking Universitas
August 25, 2026By

Prestasi

Outstanding Achievement, Kayla Fadhila Juara 1 Public Speaking Universitas
August 25, 2026By
Wisudawan Berprestasi PAI Sabet Juara Pencak Silat Nasional
July 14, 2026By
Porseni VI
Abyan Rafi Raih Juara 3 Porseni VI FKPTKIS
July 2, 2026By
Mahasiswa PGSD Umsida Raih Perak Taekwondo Surabaya
Mahasiswa PGSD Umsida Raih Perak Taekwondo Surabaya
June 30, 2026By
Mahasiswa PAI Umsida Raih Juara di UMSURA Pencak Silat
June 29, 2026By

Riset dan Inovasi

Kolaborasi Laboran TP dan IPA Kembangkan Alat Pengering Gantung Bersistem Kontrol Suhu
August 20, 2026By
Dr Yuli Kembangkan VR Bahasa Inggris Menuju Kurikulum 2027
August 12, 2026By
Dr Rahmania Lolos RIIM 11 lewat Inovasi Virtual Reality
August 11, 2026By