fpsi.umsida.ac.id — Wakil Dekan I Fakultas Pendidikan dan Studi Islam (FPSI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr Ida Rindaningsih MPd bersama Nurfi Laili, MPsi Psikolog, dipercaya menjadi anggota Tim Ad Hoc Standar Pengasuh Anak Komite Standar Nasional Pendidikan Badan Standar dan Akreditasi Nasional Pendidikan.
Kepercayaan tersebut menjadi kesempatan bagi Dr Ida untuk memberikan kontribusi keilmuan dalam penyusunan standar pengasuhan anak di Indonesia. Ia mengatakan bahwa keterlibatannya dalam tim bukan sekadar pencapaian personal, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
“Alhamdulillah, saya tentu merasa bersyukur dan sekaligus menyadari bahwa kepercayaan ini merupakan sebuah amanah yang besar,” ungkapnya.
Menurut Dr Ida, tugas tersebut memiliki arti penting karena berkaitan langsung dengan upaya memperkuat kualitas pengasuhan dan memastikan kepentingan terbaik bagi anak Indonesia.
“Bagi saya, keterlibatan dalam tim ini bukan sesuatu yang perlu dibanggakan secara pribadi, tetapi merupakan tanggung jawab untuk ikut memberikan pemikiran terbaik bagi kepentingan anak dan penguatan kualitas pengasuhan di Indonesia,” tambahnya.
Berkontribusi dari Perspektif Pendidikan dan Pengasuhan
Dr Ida menjelaskan bahwa dirinya mengikuti mekanisme yang telah ditetapkan oleh pihak berwenang hingga akhirnya dipercaya bergabung dalam Tim Ad Hoc tersebut. Ia memandang penunjukan itu sebagai bentuk kepercayaan terhadap pengalaman serta bidang keilmuan yang selama ini digelutinya.
Dalam tim tersebut, Dr Ida memiliki peran memberikan masukan dan pemikiran terutama dari perspektif pendidikan serta pengasuhan anak.
“Peran saya adalah memberikan masukan dan pemikiran sesuai kompetensi yang saya miliki, terutama dari perspektif pendidikan dan pengasuhan anak,” jelasnya.
Ia berupaya agar setiap masukan yang diberikan bersifat objektif serta didasarkan pada pengalaman maupun hasil kajian. Di sisi lain, proses penyusunan standar tetap dilakukan melalui pembahasan bersama sehingga setiap anggota perlu menghormati keputusan tim.
“Bagi saya, yang paling penting adalah memastikan bahwa setiap pemikiran yang disampaikan tetap berorientasi pada kepentingan terbaik bagi anak,” tuturnya.
Dr Ida mengakui bahwa penyusunan standar pengasuh anak memiliki tantangan tersendiri. Kondisi masyarakat Indonesia yang beragam membuat standar yang dirumuskan harus mampu menjembatani antara konsep ideal dan penerapannya di lapangan.
Standar Pengasuhan Harus Realistis dan Berpihak pada Anak

Menurut Dr Ida, keberadaan standar pengasuh anak penting karena pengasuhan menjadi salah satu faktor utama dalam tumbuh kembang anak.
Anak, lanjutnya, tidak hanya membutuhkan pendidikan formal, tetapi juga lingkungan pengasuhan yang aman, mendukung, serta sesuai dengan tahapan perkembangannya.
“Standar diperlukan sebagai acuan bersama agar kualitas pengasuhan memiliki arah yang jelas, dengan tetap mempertimbangkan keberagaman kondisi keluarga dan masyarakat,” katanya.
Karena itu, salah satu tantangan besar tim adalah merumuskan standar yang tidak berhenti pada tataran konseptual. Standar tersebut perlu realistis sehingga dapat diterapkan dalam berbagai kondisi masyarakat tanpa menimbulkan beban baru.
Dr Ida berharap hasil kerja Tim Ad Hoc nantinya benar-benar memberikan manfaat bagi keluarga dan anak Indonesia serta tidak tumpang tindih dengan kebijakan yang telah berlaku.
“Harapan saya sederhana, semoga proses yang sedang dilakukan dapat menghasilkan rumusan yang benar-benar bermanfaat bagi anak dan keluarga Indonesia,” ujarnya.
Ia juga berharap standar tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pengasuhan sekaligus menyiapkan generasi Indonesia di masa mendatang.
“Sebagai bagian dari ikhtiar ini, saya berharap apa yang kami lakukan dapat memberi kemaslahatan dan menjadi bagian dari upaya membangun generasi Indonesia menuju Indonesia Emas,” pungkas Dr Ida.
Penulis: Nabila Wulyandini
















