fpsi.umsida.ac.id— Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Pendidikan dan Studi Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) bekerja sama dengan INOVASI menyelenggarakan kegiatan Refleksi Hasil Uji Coba dan Finalisasi Empat Learning Kit Pendidikan Perubahan Iklim pada 29–30 Oktober 2026 di Kampus 3 UMSIDA.
Kegiatan ini dilaksanakan untuk merefleksikan hasil implementasi media pembelajaran yang telah diuji coba di sekolah sekaligus menyempurnakan empat Learning Kit Pendidikan Perubahan Iklim agar semakin siap digunakan secara luas.
Kegiatan tersebut melibatkan kepala sekolah, guru, dosen, mahasiswa, serta berbagai ahli yang berasal dari bidang pendidikan inklusif, numerasi, keterbacaan bahasa, dan pengembangan media pembelajaran.
Refleksi dan finalisasi dilakukan secara kolaboratif untuk memastikan media yang dikembangkan mampu menjawab kebutuhan pembelajaran perubahan iklim di berbagai kondisi sekolah.
Selain membahas hasil uji coba, peserta juga memberikan masukan terkait aksesibilitas, kemudahan penggunaan, keterbacaan bahasa, serta relevansi konten bagi peserta didik di berbagai daerah.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan media pembelajaran perubahan iklim yang kontekstual, inklusif, dan adaptif terhadap kebutuhan pendidikan masa depan.
Learning Kit Pendidikan Perubahan Iklim Dikembangkan Secara Kolaboratif

Empat Learning Kit Pendidikan Perubahan Iklim yang dikembangkan merupakan hasil kolaborasi antara UMSIDA, INOVASI, dosen, mahasiswa, guru, dan kepala sekolah.
Pengembangan media dilakukan berdasarkan kebutuhan pembelajaran yang dapat membantu peserta didik memahami isu perubahan iklim melalui pendekatan yang menarik dan mudah dipahami.
Sebelum memasuki tahap finalisasi, media tersebut telah melalui proses uji coba di sejumlah sekolah untuk memperoleh berbagai masukan dari pengguna secara langsung.
Hasil uji coba kemudian dipresentasikan oleh masing-masing kelompok pengembang sebagai dasar dalam melakukan penyempurnaan konten media pembelajaran.
Para peserta juga memperoleh masukan dari guru yang berasal dari wilayah dengan tantangan akses pendidikan yang berbeda, termasuk daerah terpencil.
Selain itu, para ahli pendidikan inklusif turut memberikan rekomendasi agar media dapat digunakan oleh peserta didik dengan berbagai kebutuhan belajar.
Masukan mengenai keterbacaan tata bahasa, numerasi, dan digitalisasi media juga menjadi bagian penting dalam proses penyempurnaan Learning Kit.
Ahli dan Praktisi Berikan Masukan untuk Penyempurnaan Media

Selama kegiatan berlangsung, peserta mendapatkan pendampingan dari sejumlah ahli yang memberikan perspektif terkait kualitas dan kebermanfaatan media.
Berbagai masukan difokuskan pada aspek aksesibilitas, kemudahan adaptasi, relevansi materi, serta peluang implementasi media di berbagai satuan pendidikan.
Kegiatan refleksi juga menghadirkan diskusi mengenai penggunaan Learning Kit di sekolah yang memiliki keterbatasan sarana maupun berada di wilayah terpencil.
Melalui sesi tersebut, kelompok pengembang memperoleh gambaran yang lebih luas mengenai kebutuhan guru dan peserta didik di berbagai daerah Indonesia.
Setelah menerima berbagai masukan, peserta melanjutkan proses perbaikan media dan penyusunan panduan penggunaan agar lebih mudah diterapkan dalam kegiatan pembelajaran.
Proses penyempurnaan dilakukan secara intensif melalui pendampingan langsung dari para ahli yang berkeliling ke masing-masing kelompok pengembang.
Peserta Apresiasi Manfaat Pengembangan Media Inklusif
Salah satu peserta, Aurel, menilai kegiatan tersebut memberikan banyak pengalaman positif sekaligus wawasan baru mengenai pengembangan media pembelajaran.
“Kegiatannya positif banget dan menyenangkan juga sih, banyak banget ilmu baru yang didapat dari para ahli, terutama tentang bagaimana mengembangkan media pembelajaran yang baik dan bisa digunakan di seluruh sekolah di Indonesia termasuk untuk anak berkebutuhan khusus,” ungkap Aurel.
Menurutnya, berbagai materi yang diberikan narasumber membantu peserta memahami pentingnya menghadirkan media pembelajaran yang dapat menjangkau kebutuhan siswa yang beragam.
“Harapannya semoga media-media yang sudah dikembangkan itu nantinya bisa benar-benar bermanfaat untuk guru dan murid di sekolah,” tambahnya.
Kesan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan refleksi dan finalisasi tidak hanya menghasilkan perbaikan produk, tetapi juga memperkaya wawasan peserta mengenai pentingnya pembelajaran yang inklusif dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, UMSIDA dan INOVASI berharap empat Learning Kit Pendidikan Perubahan Iklim dapat menjadi media pembelajaran yang lebih siap digunakan, mudah diadaptasi oleh guru, serta memberikan manfaat nyata bagi peserta didik di berbagai wilayah Indonesia. (Finnaja)
















