Lailatul Qadar

Bukan Sekadar Begadang Ini 5 Amalan Menjemput Lailatul Qadar

fpip.umsida.ac.id — Umat Islam di penghujung Ramadan kerap berusaha menghidupkan malam dengan berbagai ibadah.

Namun, malam-malam istimewa itu bukan untuk diisi dengan begadang tanpa arah.

Lailatul Qadar adalah momentum spiritual yang menuntut kesungguhan hati, kejernihan niat, dan amalan yang benar-benar mendekatkan diri kepada Allah.

Karena itu, menjemput malam penuh kemuliaan tidak cukup hanya dengan terjaga hingga larut malam, tetapi harus diiringi ibadah yang berkualitas.

Lailatul Qadar diyakini sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu, pahala ibadah dilipatgandakan dan doa-doa dipenuhi dengan harap besar untuk dikabulkan.

Maka, siapa pun yang ingin meraih keutamaannya perlu memahami bahwa inti dari ibadah malam bukanlah aktivitas fisik semata, melainkan kesungguhan jiwa dalam beribadah.

Memperbanyak Salat Malam dan Tilawah Al Quran

Lailatul Qadar

Amalan utama pertama untuk menjemput Lailatul Qadar adalah memperbanyak salat malam. Qiyamul lail menjadi bentuk ibadah yang sangat dianjurkan pada 10 malam terakhir Ramadan.

Salat tarawih, tahajud, dan witir bukan sekadar rutinitas, tetapi menjadi jalan untuk menghidupkan malam dengan penuh penghambaan.

Dalam suasana hening malam, seorang hamba lebih mudah menata hati, memperbanyak istighfar, dan memohon ampun atas segala khilaf.

Selain salat malam, tilawah Al Quran juga menjadi amalan yang sangat penting.

Ramadan adalah bulan turunnya Al Quran, sehingga membaca, memahami, dan mentadabburi ayat-ayat Allah merupakan bagian dari upaya menjemput keberkahan Lailatul Qadar.

Tidak harus membaca dalam jumlah yang sangat banyak jika itu justru membuat hati lalai.

Yang lebih penting adalah konsistensi, kekhusyukan, dan kesadaran bahwa setiap ayat yang dibaca adalah petunjuk hidup.

Pada malam-malam ganjil, umat Islam sebaiknya mulai mengurangi aktivitas yang tidak penting.

Begadang karena ngobrol panjang, bermain gawai, atau sekadar berkumpul tanpa makna justru menjauhkan dari esensi ibadah.

Malam mulia perlu disambut dengan hati yang siap dan waktu yang terjaga untuk hal-hal yang lebih bernilai.

Memperbanyak Doa Zikir dan Muhasabah

Lailatul Qadar

Amalan berikutnya adalah memperbanyak doa. Salah satu doa yang sangat dianjurkan ketika berharap bertemu Lailatul Qadar ialah permohonan ampun kepada Allah.

Doa menjadi pengakuan bahwa manusia lemah, penuh salah, dan sangat membutuhkan rahmat-Nya.

Justru pada malam itulah seorang hamba perlu lebih banyak merendah, bukan merasa cukup dengan amal yang telah dilakukan.

Selain doa, zikir juga menjadi amalan yang menenangkan hati. Tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dan istighfar bisa menjadi pengisi malam saat tubuh mulai lelah.

Zikir menjaga lisan tetap hidup dan hati tetap terhubung dengan Allah. Dari zikir inilah lahir ketenangan, kesadaran, dan rasa harap yang tulus.

Tidak kalah penting adalah muhasabah atau introspeksi diri. Lailatul Qadar bukan hanya malam untuk meminta, tetapi juga malam untuk menilai kembali perjalanan hidup.

Sudah sejauh mana Ramadan mengubah diri, seberapa banyak dosa yang masih diulang, dan apa yang perlu diperbaiki setelah bulan suci berakhir.

Muhasabah membuat ibadah tidak berhenti pada ritual, tetapi berlanjut menjadi perubahan sikap.

Menjaga Keikhlasan dan Memperbanyak Sedekah

Lailatul Qadar

Amalan kelima yang sering terlupakan adalah menjaga keikhlasan. Banyak orang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, tetapi tidak sedikit yang masih terjebak pada semangat yang tampak ramai di luar namun kosong di dalam.

Padahal, Allah menilai keikhlasan, bukan sekadar panjangnya ibadah atau lamanya seseorang terjaga di malam hari.

Keikhlasan itu juga dapat diwujudkan dengan memperbanyak sedekah, membantu sesama, dan menghadirkan manfaat bagi orang lain.

Ramadan bukan hanya tentang hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga kepedulian sosial.

Sedekah pada 10 malam terakhir menjadi amalan yang memperkuat nilai ibadah sekaligus menegaskan bahwa kemuliaan malam harus berbuah pada kebaikan nyata.

Karena itu, menjemput Lailatul Qadar tidak boleh dipahami sebatas begadang. Malam mulia ini menuntut salat malam, tilawah, doa, zikir, muhasabah, serta keikhlasan yang dibuktikan lewat amal nyata.

Dari sinilah seorang Muslim tidak hanya berharap bertemu malam terbaik, tetapi juga keluar dari Ramadan dengan hati yang lebih bersih dan hidup yang lebih terarah.

Penulis: Nabila Wulyandini

 

Bertita Terkini

Mahasiswa PLP Kelompok 70 Umsida Gelar Pembukaan Program di Balai Desa Sumurgayam
Mahasiswa PLP Kelompok 70 Umsida Gelar Pembukaan Program di Balai Desa Sumurgayam
July 28, 2026By
PLP Umsida Bekali Mahasiswa dengan Pengalaman Nyata di Madrasah
July 27, 2026By
ummi
FPSI Umsida Siapkan Calon Pengajar Al-Qur’an Bersertifikat Ummi
July 24, 2026By
FPSI Umsida Perkuat Budaya Prestasi melalui Synergy Prestasi UMM
July 23, 2026By
Kuliah Umum Pendidikan IPA Umsida Dorong Mahasiswa Terus Bertumbuh
July 22, 2026By
Mahasiswa FPSI Praktik Mengajar PAI di PAUD Aisyiyah Solokuro
July 21, 2026By
Finalisasi Integrasi Penilaian dan Bukti Kinerja Perkuat Akurasi Nilai PPG
July 20, 2026By
magang
Wijaba dan Umsida Rancang Magang Terintegrasi KKN dan Inklus
July 17, 2026By

Prestasi

Wisudawan Berprestasi PAI Sabet Juara Pencak Silat Nasional
July 14, 2026By
Porseni VI
Abyan Rafi Raih Juara 3 Porseni VI FKPTKIS
July 2, 2026By
Mahasiswa PGSD Umsida Raih Perak Taekwondo Surabaya
Mahasiswa PGSD Umsida Raih Perak Taekwondo Surabaya
June 30, 2026By
Mahasiswa PAI Umsida Raih Juara di UMSURA Pencak Silat
June 29, 2026By
Pendidikan IPA
Pendidikan IPA Lolos PPK Ormawa Ekonomi Sirkular
June 3, 2026By

Riset dan Inovasi

Grooming
Pencegahan dan Dampak Child Grooming dalam Kehidupan Sosial
February 24, 2026By
Psikologi Al-Fatihah
Pelatihan Psikologi Al-Fatihah oleh Tim Dosen Psikologi Umsida, Tingkatkan Layanan Guru BK SMA Muhammadiyah 3 Tulangan Sidoarjo
August 20, 2025By
buku
Dosen PG Paud Ciptakan Buku Ajar, Musik Mampu Tingkatkan Kecerdasan Anak Usia Dini
February 5, 2025By