pendidikan

Guru Terjerat Hukum Saat Disiplinkan Siswa Pendidikan Pakar Umsida Minta Empati

fpip.umsida.ac.id — Kasus Tri Wulansari, guru honorer SDN 21 Pematang Raman, yang ditetapkan sebagai tersangka usai menjalankan pendisiplinan siswa kembali mengguncang dunia pendidikan.

Peristiwa yang dipicu laporan orang tua murid karena dinilai sebagai penganiayaan itu terjadi di tengah terbitnya Permendikdasmen Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perlindungan bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan, namun banyak guru menilai perlindungan tersebut belum terasa di lapangan.

Koreksi Harus Berbasis Pembinaan Bukan Langsung Pidana
pendidikan

Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr Machful Indra Kurniawan, menilai kasus semacam ini perlu disikapi dengan kepala dingin, empati, dan pendekatan pendidikan, bukan semata-mata pendekatan pidana.

“Guru tentu tidak berangkat dari niat menyakiti, melainkan mendidik dan menegakkan aturan. Namun, dalam pendidikan karakter, cara sering kali lebih penting daripada niat,” terangnya.

Menurutnya, jika cara mendisiplinkan menimbulkan rasa malu atau luka batin pada anak, maka perlu dikoreksi.

Koreksi tersebut semestinya dilakukan melalui pembinaan, dialog, dan perbaikan prosedur sekolah, bukan otomatis menyeret guru ke proses pidana.

Ia menekankan bahwa konflik dalam pendidikan adalah hal wajar, sehingga mekanisme penyelesaian seharusnya mengutamakan mediasi dan pemulihan hubungan.

Dampak Psikologis dan Stigma pada Profesi Guru

Dr Indra mengingatkan bahwa kasus guru berhadapan dengan hukum dapat merusak citra profesi di mata masyarakat dan memukul psikologis para pendidik.

“Jujur saja, kasus seperti ini melukai perasaan banyak guru dikarenakan profesi guru bisa dianggap negatif, seolah-olah guru mudah melakukan kekerasan. Padahal mayoritas guru bekerja dengan hati, dalam keterbatasan, dan penuh pengabdian,” tuturnya.

Jika kasus serupa terus berulang, ia khawatir guru kehilangan kepercayaan diri dan wibawa moral di hadapan siswa maupun orang tua.

Padahal, wibawa dan kepercayaan adalah modal penting dalam pendidikan karakter.

Ia juga menilai stigma negatif berpotensi membuat relasi sekolah dan orang tua tidak sehat: guru menjadi defensif, sementara pendidikan karakter membutuhkan ketegasan yang dibangun lewat kepercayaan bersama.

Regulasi Sudah Ada Namun Batas Aman Harus Dipahami Bersama

pendidikan

Terkait Permendikdasmen Nomor 4 Tahun 2026, Dr Indra menyebut regulasi sudah berada di jalur tepat, tetapi belum “hidup” dalam praktik.

“Aturannya sudah ada, namun di lapangan guru masih merasa sendirian,” jelas Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi Umsida itu.

Perlindungan, lanjutnya, baru nyata jika ada pendampingan saat konflik muncul, bukan sekadar pasal tertulis.

Dalam pendisiplinan, ia menegaskan batas aman harus jelas: tidak melukai fisik, tidak mempermalukan, dan tidak merendahkan martabat siswa.

“Ketegasan boleh, kekerasan jangan. Disiplin itu bukan soal menghukum, tapi membimbing,” tegas dosen S2 Pendidikan Dasar tersebut.

Ia mendorong sekolah, dinas pendidikan, dan aparat penegak hukum memahami semangat regulasi, menyediakan jalur mediasi, dan hadir menengahi agar konflik tidak selalu berakhir di ranah pidana.

Penulis: Nabila Wulyandini

Bertita Terkini

Parenting IGRA Sidoarjo menjadi wadah bagi orang tua dan guru untuk memperkuat pemahaman tentang pentingnya pendampingan
Orang Tua dan Guru Hebat Jadi Fokus Parenting PG PAUD UMSIDA dan IGRA
October 31, 2026By
Wisuda Sarjana PGSD menjadi momen penting bagi peserta Program Pemenuhan Kualifikasi Akademik Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Wisuda Sarjana PGSD Tandai Peningkatan Kualifikasi Guru
October 31, 2026By
pembelajaran IPA menjadi salah satu fokus kegiatan mahasiswa selama pelaksanaan PLP 2 di SMP Negeri 3 Sidoarjo.
Pembelajaran IPA Interaktif Warnai PLP 2 Mahasiswa UMSIDA di SMPN 3 Sidoarjo
October 30, 2026By
Program PAI UMSIDA ikuti Workshop Nasional Penguatan Body of Knowledge PAI yang diselenggarakan di Yogyakarta
Body of Knowledge PAI Jadi Fokus Workshop Nasional di Yogyakarta
October 29, 2026By
Laila Al Ramadhani salah satu wisudawan terbaik berkat dedikasi dan konsistensinya selama menempuh pendidikan di bangku perkuliahan.
Wisudawan Terbaik FPSI: Laila Al Ramadhani Raih Apresiasi Lewat Konsistensi
October 28, 2026By
capaian membanggakan yang diraih oleh Suhaillah Himatul Uliya wisudawan terbaik pada periode wisuda tahun ini.
Wisudawan Terbaik FPSI UMSIDA, Sela Utamakan Proses dan Disiplin
October 27, 2026By
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo menggelar workshop edukasi lingkungan Climate Fresk untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai krisis iklim global.
Climate Fresk UMSIDA Latih Calon Pendidik Hadapi Tantangan Perubahan Iklim
October 26, 2026By
Dewan Pimpinan Daerah DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Jawa Timur menggelar kegiatan Akademi Politik Daerah AKPOL DA
Mengawal Kebijakan, Delegasi IMM Al-Khawarizmi Ikuti AKPOL DA Jawa Timur
October 25, 2026By

Prestasi

Laila Al Ramadhani salah satu wisudawan terbaik berkat dedikasi dan konsistensinya selama menempuh pendidikan di bangku perkuliahan.
Wisudawan Terbaik FPSI: Laila Al Ramadhani Raih Apresiasi Lewat Konsistensi
October 28, 2026By
capaian membanggakan yang diraih oleh Suhaillah Himatul Uliya wisudawan terbaik pada periode wisuda tahun ini.
Wisudawan Terbaik FPSI UMSIDA, Sela Utamakan Proses dan Disiplin
October 27, 2026By
PPK Ormawa Kembangkan Ekonomi Sirkular melalui Inovasi Limbah Sisik Ikan
September 14, 2026By
Mahasiswa PGSD Terpilih Jadi Duta Pencerah UMSIDA 2026
September 10, 2026By
Outstanding Achievement, Kayla Fadhila Juara 1 Public Speaking Universitas
August 25, 2026By

Riset dan Inovasi

Dosen PGPAUD Umsida Raih Doktor, Fokus Riset Lagu Anak Berkualitas
October 6, 2026By
Dr. Anita UMSIDA Lolos Riset Kerja Sama Malaysia, Kembangkan Model SIFLE Keuangan Syariah
September 17, 2026By
Dosen PBI Umsida Lolos Riset Internasional Bersama Mitra Kazakhstan
September 16, 2026By