fpsi.umsida.ac.id — Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar Lomba Pildacil dan Tahfidz Juz 30 kategori sekolah dasar pada Ahad, 31 Mei 2026, di Kampus 3 Umsida, Lebo, Wonoayu.
Kegiatan ini menjadi salah satu ruang pembinaan bagi siswa SD untuk mengembangkan kemampuan berdakwah, menghafal Al-Qur’an, serta menumbuhkan keberanian tampil di hadapan publik.
Perlombaan tersebut diikuti oleh peserta dari tingkat sekolah dasar dengan didampingi guru pendamping masing-masing.
Melalui dua cabang lomba, yakni pildacil dan tahfidz Juz 30, peserta tidak hanya diuji dari sisi kemampuan hafalan dan penyampaian materi, tetapi juga dari keberanian, kelancaran, adab, serta pemahaman terhadap nilai-nilai keislaman.
Salah satu panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai sarana untuk menanamkan karakter religius sejak dini.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya mampu menghafal ayat Al-Qur’an atau menyampaikan ceramah, tetapi juga mulai terbiasa mencintai nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Menurutnya, lomba pildacil menjadi ruang bagi siswa untuk belajar berbicara dengan percaya diri, menyampaikan pesan kebaikan, serta melatih mental di depan banyak orang.
Sementara itu, lomba tahfidz Juz 30 menjadi bentuk apresiasi terhadap usaha siswa dalam menjaga hafalan Al-Qur’an sejak usia sekolah dasar.
Panitia Siapkan Kegiatan Secara Terarah
Pelaksanaan lomba diawali dengan berbagai persiapan yang dilakukan oleh panitia.
Tahapan tersebut meliputi pembentukan kepanitiaan, penyusunan proposal, penyusunan jadwal, sosialisasi kepada sekolah dasar, hingga penentuan teknis lomba dan dewan juri.
Panitia juga menghadirkan juri yang sesuai dengan bidangnya agar proses penilaian berjalan objektif.
Dalam lomba pildacil, aspek yang dinilai meliputi penguasaan materi, keberanian, intonasi, ekspresi, serta kesesuaian isi ceramah.
Sementara pada lomba tahfidz, penilaian berfokus pada kelancaran hafalan, ketepatan bacaan, tajwid, makharijul huruf, dan adab peserta saat tampil.
Antusiasme mahasiswa terlihat sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan.
Mereka terlibat dalam pengaturan tempat, penerimaan peserta, pendampingan lomba, dokumentasi, hingga pengondisian jalannya acara.
Kerja sama antarpanitia menjadi salah satu faktor penting yang membuat kegiatan berjalan lancar.
“Bagi kami, kegiatan ini bukan hanya tentang menyelenggarakan lomba, tetapi juga belajar mengelola acara secara langsung. Mahasiswa belajar bekerja sama, berkomunikasi, dan bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing,” ungkap salah satu panitia.
Dukungan juga datang dari guru pendamping, dewan juri, bagian kemahasiswaan, serta berbagai pihak yang membantu kelancaran acara.
Kehadiran mereka memperkuat suasana kegiatan menjadi lebih tertib, semarak, dan edukatif.
Harapan Lomba Terus Dikembangkan
Melalui kegiatan ini, panitia berharap lomba pildacil dan tahfidz dapat menjadi agenda pembinaan yang memberi dampak positif bagi siswa sekolah dasar.
Peserta diharapkan semakin termotivasi untuk memperdalam ilmu agama, meningkatkan hafalan Al-Qur’an, serta berani menyampaikan pesan kebaikan kepada lingkungan sekitarnya.
Seorang guru pendamping menilai kegiatan seperti ini penting untuk membangun kepercayaan diri anak.
“Anak-anak perlu diberi ruang untuk tampil. Dari lomba seperti ini, mereka belajar berani, disiplin, dan menghargai proses,” tuturnya.
Selain berdampak bagi peserta, kegiatan ini juga memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa sebagai penyelenggara.
Mereka belajar menyusun konsep acara, menghadapi dinamika teknis di lapangan, serta membangun koordinasi dengan banyak pihak.
Ke depan, panitia berharap kegiatan serupa dapat disiapkan dengan lebih matang, melibatkan lebih banyak peserta, dan menghadirkan variasi lomba yang semakin relevan dengan pengembangan potensi siswa.
Dengan begitu, lomba pildacil dan tahfidz tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang pendidikan karakter religius bagi generasi muda.
Penulis: Nadia Nilam















