fpsi.umsida.ac.id — Dr. Yuli Astutik, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), berhasil lolos sebagai penerima Program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi Gelombang 11.
Dalam program tersebut, Yuli mengembangkan penelitian bertajuk “Pengembangan Pembelajaran Kosakata Bahasa Inggris Kontekstual Budaya Lokal Berbasis Virtual Reality (VR) bagi Siswa Sekolah Dasar Menuju Implementasi Kurikulum 2027.”
Capaian tersebut menjadi bagian dari komitmennya dalam mengembangkan inovasi pembelajaran bahasa Inggris yang relevan dengan kebutuhan sekolah dasar.
“Alhamdulillah, pastinya saya bersyukur dan bahagia atas kepercayaan yang diberikan kepada saya melalui Program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju Gelombang 11 ini. Bagi saya, ini bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi bentuk pengakuan terhadap komitmen saya sebagai dosen untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas dan berdampak bagi masyarakat,” ungkap Yuli.
Berangkat dari Tantangan Pembelajaran di SD
Gagasan penelitian tersebut berangkat dari kondisi pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar yang masih menghadapi sejumlah tantangan. Terlebih, bahasa Inggris dipersiapkan menjadi mata pelajaran wajib di sekolah dasar pada 2027.
Menurut Yuli, kesiapan menghadapi kebijakan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kurikulum, tetapi juga kesiapan pendidik dan ketersediaan media pembelajaran yang dapat membantu proses belajar siswa.
“Banyak guru yang mengajar bahasa Inggris bukan berasal dari latar belakang Pendidikan Bahasa Inggris. Karena itu, dibutuhkan media pembelajaran yang dapat membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan kontekstual,” jelasnya.
Virtual Reality kemudian dipilih sebagai teknologi yang dikembangkan dalam penelitian tersebut. Penggunaan VR diarahkan untuk membantu siswa mempelajari kosakata bahasa Inggris melalui pengalaman belajar yang lebih konkret dan interaktif.
Tidak hanya memanfaatkan teknologi, materi pembelajaran juga dikembangkan dengan memasukkan konteks budaya lokal sehingga siswa dapat mempelajari bahasa Inggris melalui lingkungan dan pengalaman yang lebih dekat dengan keseharian mereka.
Kembangkan VR yang Lebih Siap Digunakan Sekolah

Penelitian tersebut bukan dimulai dari nol. Yuli sebelumnya telah mengembangkan riset berbasis Virtual Reality dan menghasilkan luaran ilmiah yang telah dipublikasikan pada jurnal terindeks Scopus.
Penelitian terdahulu itu kemudian menjadi dasar untuk mengembangkan teknologi VR ke tahap yang lebih lanjut.
“Berangkat dari situ, kami ingin melakukan advancement, membuat dan mendesain VR yang lebih advanced, lebih baik, dan lebih proper untuk digunakan di sekolah dasar. Harapannya, produk ini nantinya bisa digunakan secara lebih luas,” katanya.
Yuli mengungkapkan bahwa penyusunan proposal RIIM tetap melalui proses panjang dan revisi berulang. Namun, keberadaan penelitian sebelumnya membuat arah pengembangan dan tujuan riset menjadi lebih jelas.
“Persiapannya tentu melalui revisi berkali-kali. Tetapi karena sudah ada dasar penelitian sebelumnya, arahnya lebih jelas. Saya ingin membuat advancement dari VR yang sudah pernah dikembangkan dan dipublikasikan. Alhamdulillah, BRIN kemudian memberikan amanah melalui pendanaan untuk proyek ini,” tuturnya.
Siapkan Inovasi Pembelajaran Menuju 2027
Melalui dukungan RIIM Gelombang 11, Yuli berharap penelitian tersebut mampu menghasilkan teknologi pembelajaran yang tidak berhenti sebagai luaran akademik, tetapi dapat benar-benar dimanfaatkan di sekolah dasar.
Pengembangan VR diharapkan dapat membantu guru menyampaikan pembelajaran kosakata bahasa Inggris secara lebih menarik, terutama bagi guru yang tidak memiliki latar belakang khusus Pendidikan Bahasa Inggris.
Bagi siswa, pengalaman belajar berbasis VR dapat membuka kesempatan untuk memahami kosakata melalui situasi yang lebih visual, interaktif, dan kontekstual.
“Harapannya, VR yang dikembangkan nanti benar-benar lebih baik dan lebih layak digunakan di sekolah dasar. Jadi bukan sekadar produk penelitian, tetapi bisa membantu proses pembelajaran dan memberikan manfaat yang lebih luas,” pungkas Yuli.
Penulis: Nabila Wulyandini

















