fpsi.umsida.ac.id — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Pendidikan dan Studi Islam (FPSI), Aulia Rahma, berhasil menorehkan prestasi dalam bidang olahraga pencak silat.
Ia meraih Juara 2 Tanding Kelas A Dewasa Putri dalam Kejuaraan Nasional Piala DANDIM Lumajang atau Lumajang Championship.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa Pendidikan Agama Islam tidak hanya mampu berkembang dalam bidang akademik dan keagamaan, tetapi juga dapat menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam bidang olahraga.
Keberhasilan Aulia diperoleh setelah melewati proses latihan panjang, pengaturan pola makan, pembagian waktu kuliah, serta persaingan ketat di gelanggang pertandingan.
Bagi Aulia, kejuaraan tersebut bukan sekadar kesempatan memperoleh medali. Kompetisi itu menjadi salah satu tahapan penting dalam mewujudkan mimpinya untuk mengikuti pertandingan dengan level yang lebih tinggi, termasuk kejuaraan internasional.
Tekuni Tapak Suci Sejak Duduk di Bangku SMK
Aulia mengaku telah mengenal Tapak Suci sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun, pada saat itu, ia belum memiliki keinginan kuat untuk menekuni pencak silat sebagai seorang atlet.
Ketertarikannya menjadi fighter mulai tumbuh ketika memasuki jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Sejak saat itu, Aulia mulai memiliki cita-cita mengikuti berbagai pertandingan besar dan mengembangkan kemampuannya hingga level internasional.
“Sebenarnya saya sudah mengikuti Tapak Suci sejak SMP, tetapi saat itu hanya sekadar ikut dan belum memiliki minat lebih. Ketika SMK, saya mulai tertarik menjadi fighter dan bercita-cita mengikuti pertandingan yang lebih bergengsi, bahkan kejuaraan internasional,” ungkapnya.
Keinginan tersebut membuat Aulia tidak ingin melewatkan kesempatan mengikuti Kejuaraan Nasional Piala DANDIM Lumajang. Menurutnya, mimpi besar harus dimulai dengan keberanian mengambil setiap kesempatan yang tersedia.
“Saya tertarik mengikuti kejuaraan ini karena salah satu mimpi saya adalah bisa bertanding dalam event-event besar. Event besar tentu dimulai dari langkah kecil. Karena itu, saya berpikir bahwa saya harus bisa dan pantas mengikuti pertandingan ini,” jelasnya.
Keberhasilan Aulia juga tidak terlepas dari dukungan orang-orang di sekitarnya.
Orang tua dan keluarga menjadi pihak pertama yang selalu memberikan dukungan serta doa dalam setiap proses yang dijalaninya.
Selain keluarga, pembina dan pelatih Tapak Suci juga memiliki peran penting dalam membangun kesiapan fisik dan mentalnya.
Dukungan teman-teman seperjuangan turut membantunya bertahan ketika menghadapi tekanan selama latihan maupun pertandingan.
Latihan Intensif dan Tantangan Menjaga Berat Badan
Persiapan menghadapi kejuaraan dilakukan Aulia sekitar satu hingga dua bulan sebelum pertandingan. Selama masa tersebut, ia bersama para atlet lainnya menjalani latihan fisik secara intensif di Kampus 1.
Latihan dapat berlangsung selama satu pekan penuh, mulai sore hingga malam hari. Program latihan tersebut dilakukan untuk mempersiapkan kekuatan fisik, teknik pertandingan, daya tahan, dan mental atlet sebelum memasuki gelanggang.
“Prosesnya tidak singkat karena banyak pengorbanan yang diberikan, mulai dari waktu hingga tenaga. Semua harus dijalani dengan totalitas. Kami bisa menjalani latihan satu pekan penuh dari sore sampai malam di Kampus 1,” katanya.
Tantangan terbesar yang dihadapi Aulia adalah menjaga berat badan. Ia turun dalam kategori Kelas A Dewasa Putri yang memiliki batas berat badan maksimal 50 kilogram. Sementara itu, berat badannya ketika mendaftar telah mencapai sekitar 49 kilogram.
Kondisi tersebut membuat Aulia harus lebih disiplin mengatur pola makan. Ia tidak boleh mengalami kenaikan berat badan menjelang proses penimbangan karena dapat menggagalkan kesempatannya bertanding.
“Hal yang paling membuat saya overthinking adalah berat badan. Ketika mendaftar, berat badan saya sudah sekitar 49 kilogram lebih, sedangkan batas maksimal kelas A adalah 50 kilogram. Bagi saya, patah hati paling sakit bagi seorang atlet adalah kalah karena berat badan ketika penimbangan,” ujarnya.
Selain menjaga berat badan, Aulia juga harus membagi waktu antara latihan dan menyelesaikan tugas perkuliahan. Meski demikian, ia tetap berusaha bertanggung jawab terhadap kewajibannya sebagai mahasiswa.
Jadikan Juara Dua sebagai Motivasi untuk Berkembang

Setelah dinyatakan meraih juara dua, Aulia merasakan kebahagiaan sekaligus kekecewaan.
Ia bersyukur karena dapat menyelesaikan seluruh proses pertandingan, tetapi merasa performanya pada babak final belum maksimal.
“Perasaan saya campur aduk, ada senang dan sedih. Saya senang karena bisa melewati setiap proses dan tahapan pertandingan. Namun, saya juga sedih karena merasa performa saat final belum maksimal sehingga hanya memperoleh juara dua, bukan juara satu,” tuturnya.
Aulia memilih menjadikan hasil tersebut sebagai bahan evaluasi. Menurutnya, ketidakpuasan terhadap penampilan bukan alasan untuk menyerah, melainkan dorongan agar dapat berlatih lebih disiplin dan tampil lebih baik pada kompetisi berikutnya.
Ia juga berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak ragu mengambil kesempatan, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik.
Setiap proses, menurutnya, akan memberikan pengalaman dan pembelajaran penting.
“Pesan saya kepada mahasiswa dan adik tingkat adalah tetap semangat dan terus berusaha. Jangan melewatkan kesempatan yang ada. Kalau ada kesempatan, langsung ambil, terobos, dan nikmati setiap prosesnya. Tetap semangat, fighting,” pungkas Aulia.
Penulis: Nabila Wulyandini


















