fpsi.umsida.ac.id — Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) Fakultas Pendidikan dan Studi Islam (FPSI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar kuliah umum pada Rabu, 01 Juli 2026, di GKB 7 Kampus 3 Umsida.
Kegiatan ini mengangkat tema “Neurosains pada PAUD: Sinergi Pendidikan dan Kesehatan untuk Mengoptimalkan Perkembangan Otak Anak Usia Dini”.
Kuliah umum tersebut menjadi ruang penguatan wawasan bagi mahasiswa, guru PAUD, serta pihak-pihak yang terlibat dalam pendidikan dan pengasuhan anak usia dini.
Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami bahwa perkembangan anak tidak cukup dilihat dari aspek pembelajaran di kelas saja, tetapi juga perlu dipahami melalui cara kerja otak, stimulasi lingkungan, kesehatan, emosi, serta pola interaksi yang diterima anak sejak usia dini.
Pemahaman neurosains dinilai penting karena masa usia dini merupakan fase strategis dalam pembentukan dasar perkembangan kognitif, sosial, emosional, bahasa, motorik, dan karakter anak.
Pada masa ini, pengalaman belajar yang menyenangkan, aman, dan sesuai tahap perkembangan akan berpengaruh besar terhadap kesiapan anak dalam menjalani proses pendidikan berikutnya.
Memahami Otak Anak Sejak Usia Dini
Materi kuliah umum membahas pentingnya memahami perkembangan otak anak sejak usia dini.
Dalam konteks PAUD, neurosains membantu calon pendidik mengetahui bagaimana anak menerima informasi, merespons pengalaman, membangun kebiasaan, serta mengembangkan kemampuan berpikir dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Bagi mahasiswa PGPAUD, pemahaman ini menjadi bekal penting agar mereka tidak sekadar merancang kegiatan belajar yang menarik, tetapi juga tepat secara perkembangan.
Kegiatan bermain, bernyanyi, bercerita, bergerak, bereksplorasi, hingga berinteraksi dengan teman sebaya perlu dirancang dengan memperhatikan kebutuhan otak anak.
“Guru PAUD tidak hanya bertugas mendampingi anak bermain, tetapi juga memahami mengapa aktivitas bermain itu penting bagi perkembangan otak anak,” demikian pesan utama yang menguat dalam kegiatan tersebut.
Dengan perspektif neurosains, mahasiswa dapat memahami bahwa pembelajaran anak usia dini tidak boleh bersifat memaksa, monoton, atau terlalu akademik.
Anak membutuhkan stimulasi yang berimbang, lingkungan yang hangat, serta pengalaman belajar yang membuat mereka merasa aman. Kondisi emosional yang positif akan membantu anak lebih siap menyerap pengalaman baru.
Sinergi Pendidikan dan Kesehatan
Kuliah umum ini juga menegaskan pentingnya sinergi antara dunia pendidikan dan kesehatan dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Pendidikan anak usia dini tidak dapat berjalan sendiri tanpa memperhatikan kondisi fisik, gizi, kesehatan mental, dan perkembangan anak secara menyeluruh.
Kolaborasi antara guru, orang tua, tenaga kesehatan, dan lembaga layanan tumbuh kembang menjadi bagian penting dalam mendeteksi kebutuhan anak sejak dini.
Jika ditemukan hambatan perkembangan, keterlambatan bicara, kesulitan motorik, atau tantangan sosial emosional, pendidik perlu mampu mengenali tanda awal dan berkomunikasi dengan pihak yang tepat.
Pengetahuan neurosains juga dapat diterapkan di berbagai ruang, mulai dari lingkungan PAUD, taman kanak-kanak, lembaga pendidikan inklusif, pusat layanan tumbuh kembang anak, fasilitas kesehatan, hingga lingkungan keluarga.
Keluarga menjadi tempat pertama anak memperoleh stimulasi, kasih sayang, bahasa, kebiasaan, dan pengalaman belajar.
Karena itu, guru PAUD perlu membangun komunikasi aktif dengan orang tua. Strategi pembelajaran di sekolah akan lebih kuat jika didukung pola pengasuhan yang selaras di rumah.
Anak akan berkembang lebih optimal ketika lingkungan sekolah dan keluarga memiliki pemahaman yang sama tentang kebutuhan perkembangan anak.
Bekal Mahasiswa Menjadi Pendidik Profesional
Bagi mahasiswa PGPAUD Umsida, kuliah umum ini menjadi bekal akademik sekaligus praktis. Pengetahuan tentang neurosains dapat diterapkan sejak masa perkuliahan melalui kegiatan observasi, praktik mengajar, penyusunan perangkat pembelajaran, hingga perancangan media belajar yang ramah anak.
Mahasiswa sebagai calon pendidik anak usia dini perlu mampu menerjemahkan teori perkembangan otak ke dalam praktik pembelajaran nyata.
Misalnya dengan menciptakan kegiatan yang mendorong anak bergerak aktif, berkomunikasi, memecahkan masalah sederhana, bekerja sama, mengenal emosi, serta mengembangkan rasa ingin tahu.
Implementasi neurosains dalam PAUD tidak harus selalu menggunakan metode yang rumit. Hal mendasar justru terletak pada kemampuan guru menciptakan suasana belajar yang positif, aman, menyenangkan, dan responsif terhadap kebutuhan anak.
Guru juga perlu peka terhadap perbedaan karakter, ritme belajar, dan kondisi perkembangan setiap anak.
Melalui kuliah umum ini, PGPAUD Umsida menegaskan komitmennya dalam menyiapkan calon pendidik PAUD yang tidak hanya memahami teori pendidikan, tetapi juga memiliki kesadaran lintas disiplin.
Pemahaman neurosains menjadi salah satu fondasi penting agar pendidikan anak usia dini mampu menjawab kebutuhan tumbuh kembang anak secara lebih utuh.
Kegiatan ini diharapkan mendorong mahasiswa, guru PAUD, dan seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat kolaborasi pendidikan dan kesehatan.
Dengan demikian, anak usia dini dapat memperoleh stimulasi terbaik sejak awal kehidupannya.
Penulis: Nabila Wulyandini















