fpsi.umsida.ac.id — Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) melalui Fakultas Pendidikan dan Studi Islam (FPSI) kembali memperkuat kiprahnya dalam riset bertaraf internasional. Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Umsida, Dr Fika Megawati SPd MPd, berhasil lolos sebagai penerima Program Riset Kemitraan Internasional (RKI) Tahun 2026.
Dalam program tersebut, Dr. Fika mengangkat penelitian berjudul “Cross-Cultural Reflective Practice in the Development of English Teaching Modules Based on Local Culture and Social Inclusion by Pre-Service English Teachers in Indonesia and Kazakhstan.”
Penelitian ini berfokus pada pengembangan modul ajar Bahasa Inggris berbasis budaya lokal dan inklusi sosial melalui kolaborasi calon guru Bahasa Inggris dari Indonesia dan Kazakhstan.
Keberhasilan tersebut menjadi bagian dari langkah Umsida dalam memperluas jejaring akademik sekaligus mendorong lahirnya inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pendidikan global.
Kembangkan Modul Berbasis Budaya Lokal dan Inklusi Sosial
Dr. Fika menjelaskan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris tidak seharusnya hanya berorientasi pada aspek kebahasaan seperti tata bahasa dan kosakata. Pembelajaran juga perlu memberikan ruang bagi peserta didik untuk memahami budaya, identitas, pengalaman, serta keberagaman sosial.
“Topik Cross-Cultural Reflective Practice dipilih karena pembelajaran Bahasa Inggris tidak hanya berkaitan dengan aspek kebahasaan, tetapi juga berkaitan dengan budaya, identitas, pengalaman belajar, dan kemampuan memahami keberagaman perspektif,” jelas Dr. Fika.
Melalui pendekatan tersebut, calon guru diharapkan memiliki kemampuan reflektif untuk memahami kebutuhan peserta didik dengan latar belakang yang berbeda.
Penelitian ini sekaligus diarahkan untuk menghasilkan modul pembelajaran Bahasa Inggris yang mengangkat budaya lokal dari kedua negara.
Mahasiswa Indonesia akan mengembangkan materi berdasarkan konteks budaya Indonesia. Sementara itu, mahasiswa Kazakhstan akan melakukan proses serupa dengan mengangkat konteks sosial dan budaya negaranya.
Selanjutnya, kedua kelompok mahasiswa akan saling bertukar hasil pengembangan modul dan memberikan masukan.
Menurut Dr. Fika, proses tersebut penting agar calon guru tidak sekadar mampu menyusun materi pembelajaran, tetapi juga mempunyai kesadaran bahwa suatu bahan ajar harus mempertimbangkan siapa peserta didik yang akan menggunakannya.
“Calon guru Bahasa Inggris perlu memiliki kemampuan reflektif agar mampu mengembangkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan latar belakang peserta didik yang beragam,” tuturnya.
Libatkan 40 Calon Guru dari Indonesia dan Kazakhstan
Penelitian internasional tersebut akan melibatkan 40 mahasiswa calon guru Bahasa Inggris, terdiri atas 20 mahasiswa dari Indonesia dan 20 mahasiswa dari Kazakhstan.
Para mahasiswa akan terlibat dalam sejumlah aktivitas, mulai dari analisis konteks budaya, penyusunan materi pembelajaran, diskusi akademik, peer feedback, microteaching, hingga refleksi terhadap pengalaman pembelajaran lintas budaya.
Kolaborasi juga dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan komunikasi akademik menggunakan email. Melalui mekanisme tersebut, mahasiswa dari kedua negara dapat mendiskusikan rancangan pembelajaran sekaligus melihat bagaimana suatu konsep pendidikan dipahami melalui perspektif budaya yang berbeda.
Dr. Fika mengatakan bahwa kolaborasi internasional menjadi unsur penting dalam penelitian ini karena mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengalami proses pembelajaran lintas budaya secara langsung.
“Mahasiswa Indonesia dan Kazakhstan nantinya tidak hanya mengembangkan modul masing-masing, tetapi juga saling memberikan masukan. Dari proses itu, mereka bisa memperkaya perspektif tentang budaya dan memastikan materi pembelajaran memiliki relevansi sosial yang kuat,” ungkapnya.
Selain kolaborasi daring, penelitian direncanakan dilanjutkan melalui kegiatan mobilitas internasional ke Kazakhstan.
Kegiatan tersebut akan digunakan untuk memperkuat proses validasi hasil penelitian, diskusi akademik, diseminasi, hingga pengembangan hubungan antarinstitusi.
Perkuat Ekosistem Riset Internasional Umsida
Keikutsertaan dalam Program RKI 2026 juga menjadi kesempatan bagi PBI Umsida untuk memperkuat ekosistem riset internasional.
Pengalaman dalam penelitian, pengembangan bahan ajar, publikasi ilmiah, hingga kolaborasi akademik menjadi modal penting dalam merancang penelitian yang tidak hanya menghasilkan luaran akademik, tetapi juga memberikan dampak bagi calon pendidik.
Melalui penelitian ini, mahasiswa diharapkan memperoleh pengalaman internasional yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasi lintas budaya, keterampilan reflektif, kreativitas dalam mengembangkan bahan ajar, dan kesiapan menghadapi lingkungan pendidikan global.
Bagi Umsida, kerja sama riset bersama mitra Kazakhstan juga membuka peluang pengembangan kolaborasi yang lebih luas di masa mendatang.
“Harapannya, penelitian ini tidak berhenti pada pengembangan modul saja. Kolaborasi Indonesia dan Kazakhstan dapat menjadi fondasi untuk kerja sama akademik yang berkelanjutan dan memberikan pengalaman internasional yang lebih luas bagi mahasiswa maupun dosen,” kata Dr. Fika.
Melalui capaian tersebut, Umsida terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong dosen dan mahasiswa terlibat dalam penelitian internasional serta menghasilkan inovasi pendidikan yang tetap berakar pada budaya lokal dan nilai inklusivitas.
Penulis: Nabila Wulyandini
















