fpsi.umsida.ac.id — Kayla Fadhila Perdana, mahasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) 2025 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), berhasil meraih juara pertama Online Video Public Speaking Competition kategori Bahasa Inggris tingkat universitas.
Kompetisi tersebut menjadi bagian dari international workshop bertajuk “Unlock Your Public Speaking: Master the Art of Being Heard” yang diselenggarakan Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Berdasarkan pengumuman, prestasi tersebut diraih pada 24 Juli 2026.
Bagi Kayla, capaian tersebut menjadi pengalaman berkesan menjelang dirinya menyelesaikan masa studi. Terlebih, ia mengaku tidak pernah menyangka video public speaking yang dibuatnya akan membawanya menjadi pemenang pertama.
“Jujur saya sebenarnya merasa kaget, nggak nyangka aja tiba-tiba waktu diumumin kok saya yang menang,” ujar Kayla.
Di balik rasa terkejut itu, terselip kebahagiaan karena prestasi tersebut menjadi salah satu pengalaman yang dapat ia bawa sebelum memasuki tahap yudisium dan wisuda.
“Saya senang juga karena bisa jadi pengalaman saya sebagai mahasiswa Umsida sebelum lulus,” tambahnya.
Berawal dari Tawaran Kaprodi dan Keberanian Mencoba
Keikutsertaan Kayla dalam kompetisi bermula ketika Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris menawarkan kesempatan kepadanya. Ia sempat ragu, tetapi akhirnya memilih mencoba sekaligus keluar dari zona nyaman.
Keputusan tersebut juga berkaitan dengan aktivitas Kayla yang saat ini bekerja sebagai guru. Baginya, kemampuan berbicara di depan orang lain bukan hanya berguna untuk mengikuti kompetisi, tetapi menjadi keterampilan yang dibutuhkan dalam profesi pendidik.
“Saya juga sekarang bekerja sebagai guru, jelas butuh cara public speaking yang bagus saat nanti menjelaskan materi ke siswa,” jelasnya.
Sebelum membuat video kompetisi, peserta memperoleh pembekalan melalui webinar dengan sejumlah pembicara. Dari materi tersebut, Kayla mulai mempersiapkan penampilannya.
Ia menyusun outline terlebih dahulu agar gagasan yang disampaikan tetap terarah. Namun, persoalan terbesar bukan terletak pada penyusunan materi, melainkan bagaimana meyakinkan dirinya untuk tampil.
“Tantangan terbesar sebenarnya kepercayaan diri aja sih. Lebih ke mikir kesan orang lain waktu udah lihat hasil kompetisinya, cuma akhirnya yaudah pede dan berani aja dulu,” ungkap Kayla.
Keberanian tersebut akhirnya membawanya pada hasil yang bahkan tidak ia perkirakan sebelumnya.
Public Speaking Jadi Bekal Mahasiswa dan Guru
Menurut Kayla, kemampuan public speaking memiliki peran penting dalam kehidupan mahasiswa. Selama perkuliahan, mahasiswa tidak terlepas dari kegiatan yang menuntut kemampuan menyampaikan gagasan di depan orang lain.
“Sebagai mahasiswa kita itu kan banyak tugas-tugas yang harus kita presentasikan, dan juga untuk sidang-sidang skripsi saat semester akhir,” tuturnya.
Kemampuan berbicara yang baik, menurutnya, membantu seseorang menyampaikan informasi dengan lebih jelas sekaligus meningkatkan kepercayaan diri ketika berhadapan dengan audiens.
Bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, keterampilan tersebut juga berjalan beriringan dengan kemampuan berbahasa Inggris. Sebagai bahasa internasional, bahasa Inggris memberikan nilai tambah yang dapat digunakan dalam pendidikan maupun dunia kerja.
Kayla menilai seseorang tidak harus menunggu sampai merasa sempurna untuk mulai menggunakan bahasa Inggris. Keberanian untuk mencoba justru dapat menjadi bagian dari proses meningkatkan kemampuan.
Hal tersebut juga ia rasakan sebagai guru. Penyampaian materi kepada siswa membutuhkan komunikasi yang jelas agar informasi dapat diterima dengan baik. Karena itu, pengalaman mengikuti kompetisi menjadi bekal yang dapat dibawa ke lingkungan profesionalnya.
Pengalaman Lebih Penting daripada Sekadar Menang
Bagi Kayla, kemenangan dalam kompetisi tersebut bukan satu-satunya hal yang perlu dilihat. Ia justru menempatkan pengalaman sebagai bagian paling berharga dari proses yang telah dilalui.
“Pengalaman itu yang paling penting, mau pada akhirnya kita menang atau kalah, anggap aja itu bonus,” katanya.
Ia pun mendorong mahasiswa lain agar tidak mudah menolak kesempatan hanya karena merasa belum percaya diri. Menurutnya, mencoba hal baru dapat membuka ruang untuk menemukan kemampuan yang sebelumnya belum disadari.
Pengalaman Kayla menunjukkan bahwa rasa ragu dapat tetap muncul meskipun seseorang sebenarnya memiliki kemampuan. Namun, keraguan itu perlu dihadapi dengan kemauan untuk mengambil kesempatan dan menguji diri.
Menjelang akhir masa studinya di Umsida, prestasi tersebut menjadi catatan tersendiri bagi Kayla. Dari awalnya sekadar menerima tawaran untuk mengikuti kompetisi, ia justru pulang dengan predikat juara pertama tingkat universitas.
Menutup pesannya, Kayla mengutip kalimat dari Coldplay yang menurutnya menggambarkan pentingnya keberanian mencoba sesuatu.
“Like what Coldplay said, if you never try you never know,” pungkas Kayla.















