fpsi.umsida.ac.id —Fakultas Pendidikan dan Studi Islam (FPSI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar acara Pembekalan Yudisium Periode II Tahun 2026 dengan menghadirkan Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sidoarjo, Dr Netti Lastiningsih M Pd sebagai pemateri utama pada Selasa, (20/10/2026).
Acara akademik di Auditorium Nyai Walidah Kampus 3 Umsida tersebut diselenggarakan untuk memberikan arah strategis serta wawasan profesionalisme mendalam kepada para calon lulusan.
Dalam momentum tersebut, Dr Netti menyampaikan materi komprehensif mengenai peta jalan karier, penguatan karakter profesional, serta strategi pembentukan personal branding bagi calon pendidik masa depan.
Beliau menegaskan bahwa prosesi yudisium merupakan pintu gerbang awal bagi calon sarjana untuk mentransformasikan keilmuan akademis menjadi kontribusi nyata di masyarakat.
Realita Pendidikan Sidoarjo dan Tantangan Profesionalisme Pendidik Adaptif

Memasuki sesi materi utama, Sekretaris Dikbud Kabupaten Sidoarjo Dr. Netti Lastiningsih, M.Pd., membeberkan statistik peta ekosistem pendidikan Sidoarjo yang menaungi 2.533 satuan pendidikan, 8.919 rombel, 20.379 guru, 1.827 tenaga kependidikan, serta 276.778 murid.
Menurut beliau, skala pendidikan daerah yang besar tersebut membutuhkan hadirnya generasi pendidik baru yang lincah beradaptasi dengan teknologi modern sekaligus kokoh secara moral.
“Pendidikan Sidoarjo menghadapi transisi kritis: menghadapi digital natives, tuntutan mutu tinggi, dan disrupsi sosial,” tuturnya.
“Sidoarjo membutuhkan Anda—pendidik yang adaptif secara teknologi namun kokoh sebagai benteng moral,”lanjutnya.
Dr Netti menjelaskan bahwa payung hukum profesionalisme pendidik berdiri di atas UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Perda Kabupaten Sidoarjo Nomor 7 Tahun 2019.
Berdasarkan regulasi tersebut, setiap calon pendidik profesional wajib menguasai empat kompetensi esensial, yaitu kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, serta sosial.
Dr Netti juga memperkenalkan konsep inovatif Dual-Core Professionalism yang memadukan secara harmonis tuntutan standar industri global dengan sistem nilai etik Islami.
Konsep tersebut menyelaraskan prinsip reliability dengan nilai amanah, quality control dengan nilai itqan atau bekerja presisi tinggi, serta corporate ethics dengan prinsip adab dan ihsan.
“Integritas bukan sekadar jargon moral, ia adalah kesesuaian absolut antara nilai yang diyakini, kata yang diucapkan, dan tindakan yang dilakukan,” tegas Dr Netti.
Pilar Personal Branding dan Penguatan Jejak Digital Positif Calon Lulusan

Pada sesi selanjutnya, Dr Netti membedah secara mendalam urgensi pembentukan personal branding yang autentik, positif, dan konsisten bagi para lulusan baru.
Beliau menyampaikan bahwa personal branding bukan sekadar pencitraan luar, melainkan proses berkelanjutan dalam membangun keunggulan spesifik serta reputasi diri yang tepercaya.
“Gelar adalah pencapaian masa lalu, sedangkan reputasi adalah tiket masa depan,” ucapnya.
Guna membangun citra diri yang tangguh, Dr Netti membagikan tiga pilar utama personal branding yang wajib diimplementasikan oleh para lulusan FPSI Umsida.
Pilar pertama berfokus pada integritas dan pengelolaan jejak digital (digital footprint), di mana para calon lulusan diingatkan bahwa tempat kerja saat ini secara aktif memantau rekam jejak digital di media sosial.
“Bangun digital footprint yang positif dan jadikan media sosial sebagai etalase akhlak Islami serta gagasan pendidikan yang mencerahkan,” imbau Dr Netti.
Pilar kedua berfokus pada penguasaan keahlian dan ekosistem digital, di mana calon pendidik dituntut menguasai teknologi edukasi mutakhir seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) guna merancang pembelajaran interaktif bagi generasi Z dan Alpha.
Pilar ketiga menekankan pentingnya kolaborasi antara penguasaan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter unggul, serta pemberian kontribusi nyata bagi masyarakat.
Lihat Juga:465-mahasiswa-fpsi-umsida-jalani-yudisium
Formula Keunggulan Kompetitif Pendidik Muslim Tak Tergantikan di Era Modern

Sebagai penutup materi pembekalan, Dr Netti merumuskan formula keunggulan kompetitif yang dirancang khusus untuk mencetak sosok pendidik Muslim yang tidak tergantikan oleh teknologi.
Formula tersebut merangkum tiga komponen vital, yaitu penggabungan antara Integritas Islami sebagai fondasi moral, Keahlian Digital sebagai sarana inovasi, serta Lisensi Profesional seperti Sertifikasi Pendidik.
“Karier yang cemerlang di Sidoarjo bukan sekadar proses mencari kerja, melainkan membangun brand diri sebagai solusi utama atas tantangan pendidikan modern,” pungkas Dr Netti.
Beliau menambahkan bahwa keberhasilan transformasi pendidikan ditentukan oleh sinergi empat pilar pendidikan, yakni peran orang tua, lingkungan sekolah, masyarakat, serta pemanfaatan media sosial secara bijak.
Sesi pembekalan interaktif tersebut diakhiri secara khidmat melalui penyerahan cenderamata serta foto bersama antara pimpinan fakultas dan pemateri.
Melalui bekal ilmu dan arahan strategis dari Sekretaris Dikbud Sidoarjo ini, FPSI Umsida optimistis para lulusan siap melangkah mantap menjadi agen perubahan yang mencerahkan dunia pendidikan Indonesia. (finnaja)


















